MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

#ReviewBuku 'Take My Hand'

#ReviewBuku 'Take My Hand'
Add Comments
Rabu, 20 September 2023

Judul : Take My Hand

Penulis : Ary Nilandari

Penerbit : Republika

Tahun Terbit : 2022


Lagi ... lagi ... dan lagi, tertipu underestimate di awal. Salah satu kebiasaan buruk yang kadang berbuah penyesalan. Dan ini kembali terjadi di buku 'Take My Hand' karya Ary Nilandari. Sebenarnya saya sudah lama tau buku ini, pun sama penulisnya. Tapi karena secara garis besar cerita tentang anak SMA, jadi ya ..., kupikir ini hanya tentang masa putih abu-abu dengan masalahnya yang receh.

Sampai kemarin (15/09/2023), buku ini dibawa oleh Indi ke RSUD Kab. Muna. Jadi bahan bacaan temani sepupu yang harus dirawat inap pasca kecelekaan. Singkat cerita, karena tidak ada kegiatan, saya meminjamnya. Di bagian awal feel nya masih biasa saja.  

Tapi semakin dibuka, lah kok makin nagih. Ceritanya memang tentang anak SMA tapi relate sama kehidupan pada umumnya. Hubungan antar anak dan orang tua, cita-cita, dan upaya untuk menyelesaikan masalah.
Ary Nilandari menjabarkannya dalam potret persahabatan tiga siswa SMA kelas XII. Ren, Wening, dan Arvind. Ketiganya berjibaku dengan sederet tuntutan khas kelas XII. UTBK, UMPTN, dan kawan-kawannya. Mungkin sekilas ini juga menjadi fenomena di seluruh Indonesia, bedanya ada yang menganggap ini hal biasa dan menjalaninya dengan biasa. Ada pula yang menganggap ini fase luar biasa yang perlu dipersiapkan matang-matang sebagai batu loncatan menuju masa depan impian.

Tiga sahabat ini adalah tipe kedua. Nahasnya, ditengah himpitan drama kelas XII, masalah keluarga juga membayang.

Ren anak sulung dari tiga bersaudara dari keluarga sederhana. Baru saja kehilangan ayah yang berarti memikul tanggungjawab baru untuk sebisa mungkin meringankan beban ibunya. Baik dalam hal pekerjaan domestik maupun ekonomi.

Wening. Gadis berjilbab yang kedua orang tuanya berpisah karena pekerjaan. Ia dan ibunya di Indonesia sedangkan ayahnya di Jepang. Wening berambisi untuk bisa kuliah di Jepang sekaligus mencari cara membawa ayahnya kembali. Segala persiapan dilakukan matang-matang dan well prepared. Cukup selangkah lagi dari titik ambisinya, untuk kemudian hancur karena upaya menyatukan kembali keluarganya tidak mungkin tercapai.

Arvind. Lahir dari keluarga bisnisman sukses dan disiapkan jadi CEO. Tapi itu bukan keinginannya + secara akademik Alvin juga tidak terlalu menonjol. Alvin dituntut untuk terus meningkat tanpa perduli bagaimana perasaannya. Ayah dan ibunya juga terus membanding-bandingkan Alvin dengan tiga kakak perempuannya yang lebih berprestasi.

Dengan semua masalah yang dihadapi, alih-alih persahabatan mereka menjadi solusi, di beberapa waktu malah memunculkan masalah baru.

Lalu,
Bagaimana Ren bisa tetap bisa melanjutkan sekolah dengan tanggung jawab baru?
Apa penyebab ambisi Wening kandas dan tidak mungkin lagi menyatukan ayah dan ibunya?
Bagaimana Arvind bisa menjadi diri sendiri di tengah tuntutan orang tua?

Yang penasaran bisa langsung cari bukunya. Ingat, no bajakan-bajakan club ya! Beli yang asli, pinjam teman, atau hunting di perpustakaan.

Buku ini akan memberikan sudut pandang hubungan antara anak dan orang tua juga antar teman sebaya. Salah satu poin yang saya garis bawahi adalah tentang hidup yang sawang sinawang -membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain-.

Menganggap bahwa orang kaya itu enak dan orang miskin itu tidak. Padahal ada kalanya, kekayaan itu harus dibalas dengan kesunyian di tengah rumah megah. Disisi lain kemiskinan berafiliasi pada kedekatan antar anggota keluarga.

Intinya, yang namanya hidup pasti ada masalah. Tinggal bagaimana kita bisa survive untuk menaklukkannya dan menjadikan itu sebagai pelajaran hidup. Ditengah berbagai masalah yang menimpah para tokoh, terselip romansa khas kaula muda. Tapi bukan yang bucin alay. 

Buku ini juga mengangkat kisah tentang keluarga. Kasih sayang seorang ibu yang rela berbuat apapun demi anak-anaknya. Di sisi lain bercerita tentang kakak yang berusaha melindungi adik-adiknya. Intinya buku ini recomended untuk dibaca oleh semua rentang usia. Terutama bagi adik-adik yang tengah menjalani masa putih abu-abu.

Berikut beberapa kutipan berkesan dari buku Take My Hand

"Katanya pengalaman adalah guru terbaik. Banyak hal yang tidak perlu dialami sendiri, belajar saja dari pengalaman orang lain. Namun, kalau masih bebal juga, kita akan diajar semesta dengan caranya."

"Waktu, sekalinya terbuang, tidak dapat di daur ulang, selamanya hilang. Mottainai."

"Setiap masalah tidak pernah berdiri sendiri, selalu merupakan sebab akibat yang rentangnya panjang. Bisa diruntu ke belakang untuk menemukan sebuah penyebab. Bisa dipikirkan jauh ke depan untuk memprediksikan akibat. Selalu ada pilihan untuk memandang masalah dari sisi positif atau negatif."