MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

#ReviewBuku ‘I AM SARAHZA’

#ReviewBuku  ‘I AM SARAHZA’
Add Comments
Selasa, 07 Desember 2021

                                             

            Assalamualaikum Sobat Waode. Kali ini saya ingin mereview sebuah buku bertema anak yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra. Bagi yang belum tau, Hanum adalah putri dari salah seorang petinggi negeri ini yaitu Bapak Amien Rais. Sebelum menulis I am Sarahza Hanum telah menelurkan beberapa buku yang memadukan antara religi dan traveling. Salah satu yang terkenal yaitu 99 Cahaya di Langit Eropa.

            Intermezzo99 Cahaya di Langit Eropa” jadi salah satu buku awal yang bikin saya terinfeksi virus traveling selain buku The Jilbab Traveler nya Asma Nadia.”

            Di buku 99 Cahaya, Mba Hanum menulis pengalaman tinggal di Eropa yang justru membuatnya semakin dekat dengan Islam. Menemukan banyak hal tentang Islam justru di tempat yang dianggap ‘jauh’ dari Islam.

            Saat membaca buku 99 Cahaya saya berdecak ‘hmmm.... enak banget ya hidup Mba Hanum. Anak orang terkenal, kuliah di tempat prestise, kerjaan mantap, dapat suami baik, plus bisa tinggal dan jalan-jalan di luar negeri.” Kurang apalagi?

            Eh tapi, di tengah berbagai ‘keberuntungan’ seorang Hanum. Ada saat dimana beliau merasa down dan ingin mengganti semua nikmat itu dengan satu hal yaitu memiliki keturunan. Satu hal yang mungkin bagi orang lain mudah saja. Bahkan ada anekdot ‘pegangan tangan sama suami aja bisa hamil’.

            Namun, tidak demikian dengan Mba Hanum. Beliau dan suami 11 tahun harus diuji dengan berbagai petualangan demi mendapatkan buah hati. Melewati rentetan usaha 6 kali IVF. Dalam buku ini bukan hanya penantian Mba Hanum dan suami tetapi juga sosok lain yang berada di Lauhul Mhafudz berupa cahaya.

            Sekedar saran, sebelum baca siapkan tissu. Di beberapa bagian mengandung bawang dan cabe. Bikin nangis bombay. Bahkan adik saya yang biasanya jarang nangis, nangis keder.  Melalui buku ini, Mbak Hanum dan suaminya membagi cerita tentang perjuangan 11 tahun menanti Sarahza..

            Buku I am Sarahza ditulis dengan menggunakan sudut pandang yang unik. Sarahza –makhluk langit- dan Hanum & Rangga –makhluk bumi-. Warning, di beberapa bagian buku ini ‘mengandung bawang’. Saat membacanya berulang kali saya dibuat menangis tersedu-sedu.

            Sarahza dikisahkan sebagai masyarakat langit yang tengah menunggu antrian untuk lahir ke bumi. Tubuhnya berupa cahaya yang redup dan cerahnya tergantung seberapa besar harapan orang tuanya –Hanum dan Rangga-. Dia bersama makhluk langit lainnya ditemani oleh malaikat.

            Membaca buku ini berkali-kali tetap saja menjatuhkan air mata. Terlebih pada bagian kasih sayang orang tua. Sosok bapak Amien Rais dan ibu bisa menjadi teladan dalam memperlakukan anak. Pun doa-doa yang tersodorkan dan segenap usaha beliau berdua menjadi tangan panjang yang mengetuk-ngetuk pintu langit.

            Perjuangan Hanum mengajarkan tentang menghadirkan hati dalam setiap usaha. Memberikan kepercayaan tertinggi pada sang Maha Rahim bahwa Dia mencintai makhluk-Nya dengan cara-Nya sendiri. Terkadang ada hal yang dekat sekali untuk kita capai tapi Tuhan meminta kita melewati jalan panjang demi mendapat berbagai pengalaman dan menikmati naik turun serta hamparan pemandangan di setiap jalan yang dilewati.

 “Enam kali bayi tabung, empat kali inseminasi, puluhan kali terapi, jutaan kali doa tak bertepi, berkalang badai depresi, hingga akhirnya satu Sarahza terjadi.” (Hal. 363)

            Selain perjuangan Hanum dan Rangga, buku ini juga menyuguhkan cerita-cerita yang menohok usaha dan kesabaran. Cerita Mbak Wenty di halaman 329 lagi-lagi sanggup menggelontorkan air mata. Buku I am Sarahza serupa pesan yang dikirimkan pada para pejuang buah hati dan pejuang kehidupan.

         Berikut beberapa kutipan yang menurut saya sangat menyentuh :

1.    Kesabaran tak melulu kemampuan menunggu, namun kemampuan mengisinya dengan keberkahan (Hal. 317)

2.   Aku menengok diri, bertanya pada hati. Sudahkah selama ini aku bersungguh-sungguh pada Tuhan? Ataukah hanya formalitas? Ala kadarnya? Yang penting bisa disebut sah beriman saja? (Hal. 285)

3.   Jika kamu merasa bahagia dan kangen dengan azan, itulah tanda Allah merangkul hamba-Nya. (Hal. 323)

4.      Allah adalah sang Maha Terpikat oleh hamba-Nya yang selalu memohon tanpa putus. (Hal. 345)

5.     Dalam waktu-waktu yang sangat membahagiakan jangan pernah berprasangka Allah akan mengurangi nya. Justru, Bapak bayar nazar sebelum kamu melahirkan. Sekarang malah Allah yang ‘berutang’ sama bapak. Dan kalau Allah berutang sama hamba-Nya, bapak yakin akan lunas beserta bunganya berlipat ganda. (Hal. 347)

6.     Pencapaian di dunia selalu lebih bermakna jika kau bisa mencapainya dengan segala perjuangan. (Hal. 357)