MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

#ReviewBuku "Journey to Aqsa"

#ReviewBuku "Journey to Aqsa"
Add Comments
Senin, 06 Desember 2021


Deskripsi

Penulis             : Marfuah Panji Astuti (Mba Uttiek)

Penerbit           : Lembaga Kemanusiaan Syam Organizer

Tebal               : 152 halaman

Tahun terbit     : Agustus 2019

Review

            Journey to AqsaBuku ini adalah salah satu buku paling spesial bagi saya. Bagaimana tidak, di lembaran awal terdapat tanda tangan sang penulis dan juga catatan spesial “Untuk Wa Ode, Semoga Allah izinkan menyusuri bumi-Nya yang luas dan sujud di sebanyak-banyak masjid-Nya. Keep writing!”. Hwaaa... rasanya seperti mimpi bisa bertemu beliau. Sosok yang saya kagumi melalui tulisan –tulisannya di akun facebook Uttiek M Panji Astuti.

            Catatan di lembar awal buku tersebut semakin melecut keinginan untuk berkelana di bumi-Nya. Salah satunya ke tanah Palestina. Terlebih di halaman belakang buku ini terdapat sinopsis bahwa Al-Aqsa menanti untuk dikunjungi “Kabarkan pada saudaramu untuk datang kemari. Mereka hanya memusuhi kami. Masjid ini aman. Masjid Al Aqsa aman karena Allah yang menjaganya.” Emot nangis.

            Melalui buku ini pembaca diajak untuk melihat bagaimana kehidupan saudara-saudara muslim kita di tanah bersejarah tersebut. Mereka yang terusir, dimiskinkan, hingga dipersulit menempuh pendidikan.

Ada banyak cara yang dilakukan Israel untuk merampas tanah milik orang Palestine. Dari cek yang bisa diisi sendiri angkanya. Hingga akhirnya bulldozer paksa jika tak mempan juga. Sekalipun itu Tanah Air-nya, tapi penduduk Palestine hanya mempunyai semacam izin tinggal yang harus diperbarui setiap tiga tahun. (Hal. vi)

            Sepanjang perjalanan penulis melintasi banyak kawasan demiliterisasi yang dijaga ketat oleh tentara bersenjata lengkap. Untuk masuk ke tanah Palestine harus melalui border dengan check point. Orang-orang yang pernah melewati tempat ini punya pengalaman berbeda-beda. Ada yang dilarang masuk sebab membawa Al-Quran, HP yang disita sebab menyimpan gambar yang menunjukkan keberpihakan pada Palestina, bahkan ada yang ditahan tanpa alasan.

            Meskipun kini tanah Palestina tengah diduduki oleh Israel namun keberkahan tetap menaungi tanah yang pernah dibebaskan oleh Umar Bin Khaththab ini. Salah satu buktinya bisa kita temui di Jericho yang terkenal dengan hasil bumi berupa buah dan sayuran. Ada pula pemandangan unik yang dipaparkan Mba Uttiek saat melintasi jalanan kota Jericho. 

“Pohon pisang yang butuh banyak air tumbuh di sisi kiri jalan, sedang di kanan jalan pohon kurma yang butuh panas matahari berbuah lebat.”

            Pemandangan kota Jericho menjadi sedikit penghibur sebelum menyaksikan kawasan pemukiman orang Israel (settlements) bergaya minimalis modern dilengkapi pemanas, AC, serta fasilitas umum mewah.  Berbeda 1800 dari kamp-kamp pengungsian warga Palestina yang lusuh dan kumuh. Tak cuma kawasan tempat tinggal yang membuat miris tapi juga tembok pembatas sejauh 844 km. Tembok ini merenggut semua hak-hak rakyat Palestine. 

            Tanah Palestina yang kini diduduki oleh Israel menyimpan jejak sejarah manusia-manusia mulia. Ada Masjidil Aqsa, Masjid tempat Umar bin Khaththab menerima kunci  Baitul Maqdis, tempat yang ditempati oleh Khalid bin Walid saat melakukan futuhat, makam Rabiah Al Adawaiyah, Masjid Nabi Musa, Makam Slaman Al Farisi, jejak Shalahuddin Al Ayyubi, tempat imam Al Ghazali menyelesaikan kitab fenomenal Ihiya Ulum Ad-Dinn.

            Ah, semua jejak itu rasanya semakin menambah keinginan untuk menapakkan kaki di  Bumi Palestina. Biar lebih yakin, ini hadis yang perlu dipikirkan “Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An Nabawi di Madinah), dan Masjid Al Aqsha (di Palestina).” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Rdhiyallahu ‘Anhu). (Hal. viii)